Langsung ke konten utama

Ini Auraku, Apa Auramu?

Minggu, 29 Juli lalu Siwi, temen gue ulang tahun. Sekali lagi happy birthday ya Siwi!! Ulang tahun Siwi dirayakan di rumah Fathiya, sekalian buka puasa bareng. Tapi gue bukan mau cerita tentang ulang tahun Siwi yang seru banget itu, melainkan momen sebelum perayaan ulang tahunnya.

Kira-kira jam 5 sore gue udah sampai di rumah Fathiya. Di kamar Fathiya ternyata udah ada Siwi, Indira, Fathiya, Nisa dan mamanya Fathiya. Temen-temen gue ternyata sedang menggambar sesuatu. Nah, gue disuruh menggambar juga tuh sama mamanya Fathiya. Singkat cerita, gue menggambar pemandangan gunung, sawah, jalan raya, rumah-rumah di pedesaan dan penduduk desa. Gambar gue diteliti gitu sama mamanya Fathiya yang emang Psikolog. Nah... pas mamanya Fathiya liat gambar gue, beliau langsung bilang, "Ini bayi banget kamu." temen-temen gue lantas pada semangat bilang iya.
"Kamu pengen kuliah dimana? Jurusan apa?" lanjut beliau.
"HI UNAIR."
"Waduh... HI itu berat loh, kamu nanti susah ngejalaninnya. Masalahnya kamu itu orangnya gak mau pusing, gak mau susah gitu loh." gue ngomong dalam hati, "Kalau gue gak mau susah berarti nanti gue itu gak mau jadi orang miskin dong. Mungkin gue itu tipe istri yang suka mendorong suami untuk bisa dapet uang banyak dan akhirnya suami gue jadi koruptor. OH NOOO... *sok tahu*"
"Kamu itu harusnya nikah dulu baru bisa kuliah." gue kaget, semua pun kaget. gue ngomong lagi dalam hati, "Buset dah... gue kan masih kecil, masa gue harus nikah sama orang yang umurnya jauuuuuh lebih tua sih? gak mungkin kan, gue menikah sama orang yang belum kerja, mau makan apa gue? Dan orang yang udah mapan itu pasti umurnya 27 tahun keatas."
"Seandainya kamu udah berhasil lulus kuliah pun gak bisa langsung kerja. Harus nikah dulu." temen-temen berisik sejenak.
"Ini kamu gambar sawah tapi gak tahu harus ditanami apa. Ya, jadi kamu itu belum begitu tahu nanti kamu akan kerja apa. Jadi suka bingung gitu loh mau ngelakuin apa." kata mamanya Fathiya. Gue berkata dalam hati, "iya sih emang gue juga bingung ntar mau kerja apa setelah gue lulus kuliah. Pengennya sih di kedutaan biar gampang ke luar negerinya."
"Kamu itu sebenernya mudah ya belajarnya. Hapalannya bagus, cepet nangkep pelajaran. Tapi ya kalau pikirannya masih kayak anak kecil sih tetep aja susah nanti kesananya."
"Ya, pacaran dulu deh. Soalnya kamu itu gak pernah mau pusing mikirin yang macem-macem. Nah, kalau pacaran kan pusing tuh mikirin ini-itu, jadi setidaknya kalau udah pacaran itu jadi terbiasa pusing." lanjut mamanya Fathiya. Semuanya berisik, sepertinya itu penghinaan terselubung yang dilakukan oleh temen-temen gue karena gue belum pernah pacaran. Tapi gue udah lumayan menangkap apa yang dimaksud mamanya Fathiya nih, bahwa gue itu harus terbiasa pusing memikirkan hal-hal yang berat karena saat kuliah nanti hidup gue akan diuji seberat-beratnya, mulai dari ngekost sendirian, belajar sendirian, mengerjakan tugas yang menumpuk sendirian sampai berteman dengan orang-orang individualistik.
"Kamu itu gak pernah galau ya. Ekspresi kamu tuh datar, habisnya kamu kayak bayi sih. Makannya coba deh kamu belajar galau." Dalam hati gue berkata, "Ini orang gimana sih, udah bagus gue gak pernah galau malah disuruh galau."
"Yah udah lah pokoknya kamu itu harus pacaran dulu!" Perintah beliau. "Aduh tapi gue udah punya janji dengan diri gue sendiri yang sulit untuk gue langgar" kata gue dalam hati lagi.
"Kamu kalau suka sama seseorang lebay ya? Kelihatannya sih kamu biasa aja padahal dalem hatinya, aduuuuuh tembak gue dong, tembak gue..." temen-temen gue ngakak berjamaah.
"Sekali kali kek, tembak cowok! Tapi nembaknya jangan tanggung-tanggung biar kalau ditolak gak malu." Wah... masa gue harus nembak pria yang udah gue gebet selama 8 tahun itu *ups*. Nanti bisa-bisa pas gue udah jadian sama dia, gue dan dia disindir pake lagu Pacarku 5 Langkah lagi sama papa gue -____-
"Sebenarnya kamu itu sama aja kayak yang lain. Cantik ya. Hidung mancung, bibir kemerah-merahan, putih lagi, siapa sih yang gak tertarik sama kamu? Ya kalau cewek sih ngeliat kamu cukup bilang 'cantik' gitu aja, gak mungkin dong tertarik. Tapi kalau cowok ngeliat kamu itu kayak bayi. Ya sebatas bayi yang cantik gitu aja, jadi mereka gak akan tertarik. Gak mungkin kan mereka tertarik sama bayi? Bener gak?" Oke deh, yang ini aneh. Sebenarnya gue mau tanya sama semua cowok di dunia ini, apa yang kalian lihat di profile picture facebook atau avatar twitter gue? Bayi atau seorang gadis cantik? Waduh jangan-jangan para cowok di mall, sekolah atau di jalan melihat gue merangkak bukan berjalan.
"Sebenernya kamu beraura putih, ya aura bayi." lanjut mamanya Fathiya. Yang lain ngakak.
"Kamu itu sebenernya PD sih PD aja, tapi kamu itu gak punya *apalah itu namanya gue lupa, sexophil atau saxophone* jadi susah ya. Nah, gara-gara itu cowok itu melihat kamu itu seperti anak kecil, gak ada yang tertarik. Jadi gini loh kamu itu ibarat anak kecil yang cantik gitu aja. Nah, kamu itu harus pacaran biar *apalah itu namanya gue lupa, sexophil atau saxophone* kamu itu keluar."
"Terus kamu itu gak perlu meminta, karena semuanya udah pada ngasih kamu. Ya mereka senang memberi kamu. Jadi kamu itu ibarat bayi yang cantik *aduhhh dibilang cantik lagi, gue jadi melambung* jadi banyak yang pengen dandanin, kasih mainan atau makanan."
"Ya udah deh, pokoknya kamu pacaran dulu. Nanti kalau kamu pacaran auranya bisa berubah. Nanti kamu itu bisa jadi lebih dewasa. Tapi gak usah takut deh, gak akan diapa-apain kok. Dia akan melindungi kamu *eaaa*. Ya... orang-orang pada kasihan sama kamu jangankan mau ngapa-ngapain, mau nyenggol aja gak tega, bayi sih... Jadi tenang aja, jangan takut pacaran karena kamu dilindungi oleh auramu." Btw, ini kayaknya kebanyakan ngomongin aura bukannya analisa psikologi gambar gue.

Sebenarnya aura itu bisa berubah-ubah sesuai dengan keadaan kita. Tanpa pacaran pun gue yakin warna aura gue bisa berubah menjadi biru yang artinya bijaksana dan gak kekanak-kanakan. Gue sih gak mau terlalu memikirkan apa yang diomongin mamanya Fathiya, takutnya jadi sugesti. Gue kan gak mau beneran gak kerja setelah lulus kuliah nanti cuma gara-gara omongan mamanya Fathiya gue pikirin terus-terusan sehingga menjadi sugesti. Aura gue putih, apa aura lo?

Komentar

  1. buahahahaha, bener tu!!!! lo pacaran aja dulu, sebulan lah, buat masa coba2 wkwk.
    oye, itu kata mama fathiya 'sex appeal' tu kekeke
    aura gue? antara oranye dan merah katanya xO

    BalasHapus
    Balasan
    1. pacaran kok coba-coba -_-
      oke deh sex appeal.
      merah artinya semangat. oranye artinya apa tuh?

      Hapus
  2. It is unfortunate that you would like to provide the following videos for your entertainment and evaluation.
    Then, in July 2002, he was not allowed to bring his kitten inside a strip club.
    This is my favorite fleshlight so
    far. So it's always a wise decision to first do your study and research, so that you can see from the rather large gallery below, and check out the video below of it in action.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review: Himouto! Umaru-chan (Anime TV Series)

Judul                 : Himouto! Umaru-chan Penulis              : Takashi Aoshima Sutradara         : Masahiko Ohta Tahun Tayang : 2015
Himouto! Umaru-chan adalah serial manga yang  ditulis oleh Sankaku Head yang kemudian diadaptasi ke dalam serial televisi pada tahun 2015 lalu, tepatnya anime ini tayang pada tanggal 9 Juli 2015 hingga 24 September 2015.
Kemarin saya baru saja selesai menonton serial anime ini. Hanya ada 12 episodes, sehingga tidak membutuhkan banyak waktu untuk mengetahui akhir cerita serial anime bergenre komedi ini.

Umaru adalah seorang gadis SMA yang sangat pintar, berbakat, baik hati, sangat cantik, serta menarik, sangat sempurna sehingga semua orang menyukainya. Namun sifat-sifat tersebut berubah drastis seketika Umaru masuk ke dalam apartemen kecil kakaknya, Taihei. Umaru berubah menjadi seorang pemalas. Ia hanya mau bermain game, makan, dan tidur.

Oke, langsung lanjut ke episode list of Himouto! Umaru-chan: Episode 1: Umaru and Onii-chan Episode 2: Umaru and Ebina Cha…

Review: Hana Korean Restaurant Cilegon

Hello, anyeong haseooo hehehe.
Liburan ini rata-rata aku habiskan waktuku di rumah menjalani hobi-hobi yang membahagiakanku, tapi aku sempat keluar bermain bersama teman-teman SMA beberapa kali (sebenarnya dengan si itu-itu saja sih). Nah, kemarin tanggal 2 Februari setelah aku ikut seminar di kampus, aku reunian lagi dengan teman-teman SMA, tapi kali ini bukan makan-makan dan ngobrol ngalor-ngidul di tempat makan mainstream yang biasa kita sambangi, melainkan di Hana Korean Restaurant yang terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 14, Kel. Kedaleman Kec. Cibeber, Cilegon, Banten seberang Giant Pondok Cilegon Indah.
Karena ini pertama kalinya aku ke restoran Korea (biasanya gak berani coba-coba makanan aneh, biasanya gak punya uang, biasanya gak ada temen yang ngajak), jadi begitu ada yang ngajak, aku pasti seneng banget dan gak nolak, dan pastinya berniat untuk bikin reviewnya.
So here i go, im going to review this Korean Restaurant.
Bagi teman-teman yang berjalan di Jalan Raya Cile…

Piknik Murah Meriah Ke Gunung Pinang

Kemarin Kamis, 26 Januari 2017 aku dan temanku Muhtar main ke Gunung Pinang di Jalan Raya Serang-Cilegon, tepatnya di Kramatwatu, Kabupaten Serang, tengah-tengah antara Kota Serang dan Cilegon. Tiba-tiba saja Rabu kemarin sepulangku dari Bogor Muhtar mengajakku main, karena aku penasaran sekali dengan spot foto Gunung Pinang yang sedang hits di kalangan anak gaul Serang-Cilegon, akhirnya aku mengajaknya main ke sana.
                That was the first time we are going there. Aku baru tahu kalau kami harus beli tiket dulu seharga Rp. 10.000,00 per orang untuk bisa naik ke puncak. But hey, Rp. 10.000,00 is worth to buy! Begitu beberapa meter motor ini melaju ke puncak yang cukup terjal, kami sudah merasakan sejuknya udara karena oksigen dari pepohonan di sekitar kami. Sangat berbeda dari beberapa saat lalu saat kami masih berada di jalan raya, panasnya Serang tiba-tiba diganti dengan sejuknya udara di Gunung Pinang yang menyegarkan. Cukup jauh jika harus berjalan kaki …