Skip to main content

Sekelumit cerita di hari Rabu

Hari ini adalah hari Jumat tanggal 22 Maret 2011 adalah hari terakhir gue liburan karena UN kelas 12 selesai kemarin dan sekarang hari libur Paskah. Besok sudah tiada lagi liburan, yang ada hanya belajar di sekolah, perkerjaan rumah dan ulangan dan yang terakhir tapi sama pentingnya adalah les. Huhhhhh padahal liburan ini gue belum sempat pergi kemana-mana kecuali kunjungan gue ke kampus UNTIRTA kemarin Rabu tanggal 20 Maret 2011 bersama temen gue Annissa Winda atau panggil saja Winda supaya namanya tidak tertukar dengan nama gue.

Pada hari itu, gue bangun agak siang because im in a period. Biasaaa gue bangun jam 5 sih iya tapi gue tidur lagi karena gue sedang tidak solat. Sebelumnya, Arvien sang ketua kelas X-1 yang terhormat menjanjikan untuk berkumpul di Pendopo Alun-alun Barat Serang jam 10:00 dengan tujuan latihan pensi. Gue yang waktu itu bangun jam 08:00 malah bersantai-santai ria karena gue merasa rumah gue tidak seberapa jauh dari lokasi. Beberapa menit setelah gue bersantai ria menonton televisi 24 inch sambil mengunyah sarapan gue mandi dan bersiap-siap. Namun… gue masih menyempatkan diri untuk berlatih piano untuk mengiringi teman-teman gue tercinta yang akan memadukan suara mereka di atas panggung pentas seni nanti. Gue latihan piano kira-kira 1 jam. Setelah itu gue berangkat ke Alun-alun Barat diantar oleh sang mamang tukang ojek langganan gue. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya gue nyampe di Pendopo Alun-alun Barat. Gue sampai disana kira-kira jam 11 lewat sedikit entah lewat berapa menit. Disana hanya ada Fiher, Deta, Belia dan Sarah. What the hell is going on? Rasanya sebelum berangkat gue telah membaca sms dari temam-teman gue yang bernada “lebay” seperti semua manusia penghuni kelas sudah berkumpul di Pendopo tapi ternyata oh ternyata hanya ada 4 pasang mata disana! Gue kaget sekaligus kecewa. Tapi ternyata ada 2 buah tas kulit dan 1 buah tas kain yang tergeletak disana, diantara ketiga gadis; Deta, Belia dan Sarah. Ternyata 3 buah ta situ milik Shinta, Isti dan Farah. Gue agak lega karena kami tidak hanya berlima tapi bertujuh. Beberapa saat kemudian, Arvien dan Tio datang dengan disambut dengan cemoohan dari kami bertujuh. Tetapi mereka tetap tersenyum seperti tidak ada masalah apa-apa. Kami mengobrol sebentar membicarakan nasib kami malang terlunta-lunta di Pendopo Alun-alun Barat. Akhirnya keputusan diambil, beberapa orang dari kami pulang dan sisanya hanya beberapa yaitu gue, Isti, Farah, Arvien, Tio dan Fiher. Alasan gue tidak pulang adalah karena gue akan dijemput oleh Annissa Winda penghuni kelas X-3 SMANSA untuk pergi ke Kampus UNTIRTA. Gue menunggu Winda sambil membaca novel yang berjudul Forgiven karya Morra Quatro, penulis baru yang karya pertamanya banyak menuai pujian. Yap karya pertamanya ini memang bagus, cukup membuat gue menangis terharu. Setelah beberapa halaman kubaca, Winda datang dengan setelan Mario Bross dan kacamata berbingkai lebar sehingga Ia terlihat aneh sekaligus modis.

Gue ke UNTIRTA dibonceng Winda dengan menggunakan motor matik berwarna pink. Kami sampai disana kurang lebih jam 1 siang. Kami sedikit kebingungan mencari lokasi dimana tempat seminar itu akan berlangsung. Tapi tanpa bertanya akhirnya kami menemukannya. Kami bertanya kepada seseorang di lokasi seminar mengenai tiket dan sebagainya. Setelah kami mendapatkan petunjuk, kami naik satu lantai lagi, disana kami harus menandatangani buku hadir seperti yang ada di acara pernikahan dan kami mendapat brosur lantas kami dipersilakan masuk ke suatu ruangan seminar. Kami menunggu, menunggu dan menunggu sang narasumber yang notabene penulis idola kami selama kurang lebih 1 jam 10 menit. Acara yang dijanjikan akan dimulai jam 13:00 ternyata pending sampai 1 jam 10 menit. Jam 14:10 acara baru dimulai dengan dibuka oleh host centil dan beberapa sambutan dan presentasi dari entah siapa, mungkin Ia dosen atau apalah itu gue tidak tahu dan memang ingin tahu. Setelah itu, Raditya Dika sang penulis novel komedi idola kami pun muncul dengan memakai jaket putih dan dia terlihat… keren! *SNAP!* Ia mulai bicara tentang pengalaman sebelumnya Ia mengunjungi kota Serang tercinta lalu dilanjutkan dengan presentasinya yang bertema Menulis Cerita. Gue meperhatikan setiap detail cerita yang disampaikannya. Winda mengambil beberapa gambar dirinya. Tibalah suatu sesi yang ditunggu-tunggu, Sesi Pertanyaan. Beberapa orang mengacungkan tangan mereka dan bertanya kepada sang narasumber dan sang narasumber pun menjawabnya dengan jawaban yang cukup memuaskan. Saat host memberi kesempatan lagi kepada audiences untuk bertanya, gue mengacungkan tangan gue, namun sayang seribu sayang, gue yang berada di kelas tribun tidak diberi kesempatan untuk bertanya karena tidak tersedia pengeras suara di sana. Rasanya gue mau nangis, padahal gue istimewa loh! Istimewa karena gue adalah anak SMA yang terselip diantara ratusan mahasiswa. Gue yakin kalau gue diberi kesempatan untuk bertanya, saat gue memperkenalkan diri gue dan menyebut nama sekolah gue pasti Raditya Dika akan bertanya pertanyaan kecil namun kocak kepada gue. Setidaknya Ia akan bertanya, “Oh kamu masih SMA ternyata, kok bisa nyasar ke sini?” ah, setelah sesi pertanyaan selesai. Para peserta workshop yang terdiri dari 2 orang wanita dan 1 orang pria selesai menulis cerita komedi mereka. Mereka mempresentasikan cerita mereka di depan kami para audiences. Peserta pertama adalah wanita berkerudung, ceritanya lumayan bagus tapi tidak seberapa menarik. Peserta kedua seorang wanita berambut pendek, ceritanya lumayan membuat gue tertawa. Peserta ketiga, seorang pria jangkung yang aneh menurut gue. Tapi jangan salah sangka ceritanya bagus banget! Simple but great! Genius, totally genius. Entah mengapa saat itu gue tiba-tiba jadi mengidolakan dia beserta tulisannya. Menurut gue, secara appearance dia lucu maksud gue perawakan yang jangkung, wajah lonjong dan senyum yang aneh itu membuat dia terlihat lucu tapi tidak konyol. Setelah seminar selesai, hampir semua orang yang duduk di kelas tribun berduyun-duyun keluar, gue langsung mengetahui apa tujuan mereka. Tujuan mereka sama dengan tujuan gue yaitu meminta Raditya Dika berfoto bersama mereka. Gue, Winda dan para mahasiswi mengejar sang penulis sampai sang penulis berhenti didepan mobilnya. Ada sekelompok mahasiswi yang sempat berfoto bersama Raditya Dika dengan bantuan tangan teman gue, Winda. Namun, Winda yang membantu mengambil foto mereka malah tidak mendapatkan kesempatan untuk berfoto bersama Raditya Dika. Poor you Winda, and absolutely me too. Setelah itu, gue dan Winda ke tempat parkir motor dan keluar UNTIRTA, saat motor yang kami naiki sampai di gerbang UNTIRTA, kami melihat mobil CRV milik Raditya Dika dan saat itu, kegilaan gue pun muncul. Gue, dengan wajah gue yang absurd berteriak dengan menghadap kaca depan sisi kiri mobil, “Bang Dika…” saat itu gue sadar bahwa supir atau entah siapa dia, menoleh ke kiri dan tersenyum menunjukan gigi-giginya. Sang penulis Raditya Dika yang duduk di sebelah jok depan sisi kiri juga sempat menoleh sebelum Winda menarik gas motornya. Kami pun berubah menjadi stalkers. Menguntit mobil CRV putih. Sampai beberapa kilometer. Sampai Ia berbelok melewati pembatas jalan yang membatasi jalan menuju Alun-alun dan jalan menuju Terminal. Akhirnya kami berhenti menjadi stalkers dan kami mampir ke rumah Winda sebentar karena Winda hendak mengganti sepatunya. Setelah itu, kami berangkat ke LIA tempat kami les bahasa Inggris bersama. Di tempat les, gue tidak bisa berkonsentrasi karena kecapekan dan belum makan siang lagi pula gue terus diselimuti perasaan bersalah karena jamur kriuuk pesanan teman-teman gue gagal gue bawa karena mama tidak sempat memasaknya karena mama baru membuka kedai jamurnya jam 18:00. Malamnya, gue menceritakan segalanya ke adik-adik gue tercinta.

Btw, bahasa di cerita gue yang satu ini lumayan berboot karena gue meningkatkan penggunaan kata baku Bahasa Indonesia dan yaaa menurut gue ini cukup rumit. Sesungguhnya gue ingin mengganti kata “gue” dengan kata “aku” tapi gue pikir kata “aku” terlalu kaku dan bisa membuat orang-orang terutama anak-anak seusia gue jadi awkward saat membacanya. Jadi gue pikir lebih baik menggunakan bahasa slang untuk cerita ringan seperti ini.

I guess this is the longest post I’ve ever made. Haha see ya on my next post! Love ya!

Comments

Popular posts from this blog

Review: Himouto! Umaru-chan (Anime TV Series)

Judul                 : Himouto! Umaru-chan Penulis              : Takashi Aoshima Sutradara         : Masahiko Ohta Tahun Tayang : 2015
Himouto! Umaru-chan adalah serial manga yang  ditulis oleh Sankaku Head yang kemudian diadaptasi ke dalam serial televisi pada tahun 2015 lalu, tepatnya anime ini tayang pada tanggal 9 Juli 2015 hingga 24 September 2015.
Kemarin saya baru saja selesai menonton serial anime ini. Hanya ada 12 episodes, sehingga tidak membutuhkan banyak waktu untuk mengetahui akhir cerita serial anime bergenre komedi ini.

Umaru adalah seorang gadis SMA yang sangat pintar, berbakat, baik hati, sangat cantik, serta menarik, sangat sempurna sehingga semua orang menyukainya. Namun sifat-sifat tersebut berubah drastis seketika Umaru masuk ke dalam apartemen kecil kakaknya, Taihei. Umaru berubah menjadi seorang pemalas. Ia hanya mau bermain game, makan, dan tidur.

Oke, langsung lanjut ke episode list of Himouto! Umaru-chan: Episode 1: Umaru and Onii-chan Episode 2: Umaru and Ebina Cha…

Review: Hana Korean Restaurant Cilegon

Hello, anyeong haseooo hehehe.
Liburan ini rata-rata aku habiskan waktuku di rumah menjalani hobi-hobi yang membahagiakanku, tapi aku sempat keluar bermain bersama teman-teman SMA beberapa kali (sebenarnya dengan si itu-itu saja sih). Nah, kemarin tanggal 2 Februari setelah aku ikut seminar di kampus, aku reunian lagi dengan teman-teman SMA, tapi kali ini bukan makan-makan dan ngobrol ngalor-ngidul di tempat makan mainstream yang biasa kita sambangi, melainkan di Hana Korean Restaurant yang terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 14, Kel. Kedaleman Kec. Cibeber, Cilegon, Banten seberang Giant Pondok Cilegon Indah.
Karena ini pertama kalinya aku ke restoran Korea (biasanya gak berani coba-coba makanan aneh, biasanya gak punya uang, biasanya gak ada temen yang ngajak), jadi begitu ada yang ngajak, aku pasti seneng banget dan gak nolak, dan pastinya berniat untuk bikin reviewnya.
So here i go, im going to review this Korean Restaurant.
Bagi teman-teman yang berjalan di Jalan Raya Cile…

Piknik Murah Meriah Ke Gunung Pinang

Kemarin Kamis, 26 Januari 2017 aku dan temanku Muhtar main ke Gunung Pinang di Jalan Raya Serang-Cilegon, tepatnya di Kramatwatu, Kabupaten Serang, tengah-tengah antara Kota Serang dan Cilegon. Tiba-tiba saja Rabu kemarin sepulangku dari Bogor Muhtar mengajakku main, karena aku penasaran sekali dengan spot foto Gunung Pinang yang sedang hits di kalangan anak gaul Serang-Cilegon, akhirnya aku mengajaknya main ke sana.
                That was the first time we are going there. Aku baru tahu kalau kami harus beli tiket dulu seharga Rp. 10.000,00 per orang untuk bisa naik ke puncak. But hey, Rp. 10.000,00 is worth to buy! Begitu beberapa meter motor ini melaju ke puncak yang cukup terjal, kami sudah merasakan sejuknya udara karena oksigen dari pepohonan di sekitar kami. Sangat berbeda dari beberapa saat lalu saat kami masih berada di jalan raya, panasnya Serang tiba-tiba diganti dengan sejuknya udara di Gunung Pinang yang menyegarkan. Cukup jauh jika harus berjalan kaki …